Saturday, November 8, 2014

Fiber To The Home

Fiber to the Home (disingkat FTTH) merupakan suatu format penghantaran isyarat optik dari pusat penyedia (provider) ke kawasan pengguna dengan menggunakan serat optik sebagai medium penghantaran. Perkembangan teknologi ini tidak terlepas dari kemajuan perkembangan teknologi serat optik yang dapat mengantikan penggunaan kabel konvensional. Dan juga didorong oleh keinginan untuk mendapatkan layanan yang dikenal dengan istilah Triple Play Services yaitu layanan akan akses internet yang cepat, suara (jaringan telepon, PSTN) dan video (TV Kabel) dalam satu infrastruktur pada unit pelanggan.
Penghantaran dengan menggunakan teknologi FTTH ini dapat menghemat biaya dan mampu mengurangkan biaya operasi dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan. Ciri-ciri inheren serat optik membenarkan penghantaran isyarat telekomunikasi dengan lebar jalur yang lebih besar dibandingkan dengan penggunaan kabel konvensional[1].
Dari gambar mengilustrasikan arsitektur umum dari suatu jaringan FTTH. Biasanya jarak antara pusat layanan dengan pelanggan dapat berkisar maksimum 20 km. Dimana pusat penghantaran penyelenggara layanan (service provider) yang berada di kantor utama disebut juga dengan central office (CO), disini terdapat peralatan yang disebut dengan OLT. Kemudian dari OLT ini dihubungkan kepada ONU yang ditempatkan di rumah-rumah pelanggan (customer's) melalui jaringan distribusi serat optik (Optical Distribution Network, ODN). Isyarat optik dengan panjang gelombang (wavelength) 1490 nm dari hilir (downstream) dan isyarat optik dengan panjang gelombang 1310 nm dari hulu (upstream) digunakan untuk mengirim data dan suara.
Sedangkan layanan video dikonversi dahulu ke format optik dengan panjang gelombang 1550 nm oleh optik pemancar video (optical video transmitter). Isyarat optik 1550 nm dan 1490 nm ini digabungkan oleh pengabung (coupler) dan ditransmisikan ke pelanggan secara bersama. Singkatnya, tiga panjang gelombang ini membawa informasi yang berbeda secara simultan dan dalam berbagai arah pada satu kabel serat optik yang sama.

Komponen utama

1.      Terminal Saluran Serat Optik (Optical Line TerminalOLT) biasa ditempatkan pada pusat penyedia layanan provider (CO) untuk menghantarkan isyarat layanan kepada setiap pengguna dalam jaringan rangkaian sistem, dan OLT juga merupakan titik aggregasi suara dari PSTN, data dari penghala dan video melalui berbagai bentuk sebagai medium penghantaran[2].
2.      Unit Jaringan Serat Optik (Optical Network UnitONU) adalah peralatan yang digunakan diakhir jaringan untuk memberikan layanan-layanan yang disediakan kepada pelanggan[3].
Layanan data (internet), suara (telepon) dan video (TV Kabel) diberikan dari ONU kepada pelanggan pengguna melalui penghantaran media yang sesuai.
Secara umum, teknologi FTTH terdiri daripada tiga jenis topologi jaringan[4], jaringan titik ke titik, jaringan serat optik aktif dan jaringan serat optik pasif.

Jaringan titik ke titik (Point to Point)
Jaringan titik ke titik (P2P) merupakan rancangan jaringan FTTH yang paling ringkas, dimana isyarat dihantar terus dari CO kepada setiap pelanggan dengan satu serat optik dan laser yang terpisah berdasarkan IEEE 802.3ah. Serat optik bentuk tunggal digunakan untuk isyarat bolak-balik dengan satu kabel serat optik sampai pertukaran setempat (Local Exchange) dan kemudian dipisah untuk masing-masing pelanggan pengguna akhir (End User).


Jaringan serat optik aktif (active optical network, AON)
Jaringan serat optik aktif merupakan rangkaian titik ke banyak titik (Point to Multi Point, P2MP), penggunaan teknologi ini terbatas karena biayanya sangat tinggi. Peralatan-peralatan aktif yang digunakan dalam jaringan AON termasuk optical switch, memerlukan tenaga listrik.


Jaringan serat optik pasif (passive optical network, PON)
Jaringan serat optik pasif juga merupakan jaringan P2MP hampir sama dengan AON. Perbedaannya dimana pada titik komponen aktif digantikan oleh pencerai optik pasif (passive optical splitter). Jika dibandingkan dengan jaringan jenis AON, pemasangan jaringan jenis PON adalah lebih mudah dan murah serta tidak menggunakan komponen elektronik aktif sehingga mengurangi biaya pemeliharaan peralatan.


Pencerai optik pasif

Pencerai optik pasif atau juga disebut dengan splitter yang digunakan dalam jaringan P2MP memiliki satu masukan dan banyak (multiple) keluaran dan bersifat pasif karena tidak memerlukan sumber energi eksternal. Rugi-rugi atau kehilangan daya optik pada pencerai serat optik pasif ini disebut juga splitter rasio, biasanya dinyatakan dalam decibel (dB) dan ini terjadi terutama bergantung kepada jumlah keluaran dari pencerai tersebut, sebagai contoh, masukan sinyal optik dibagi rata di kaskade atau cabang-cabang; misalnya sebuah splitter 1x2 hanya memiliki dua cabang maka kemungkinan kehilangan sisipan (insertion loss) adalah 3 dB (50% pada setiap keluaran); jika pada splitter 1x4, maka akan ada dua cabang ditambahkan ke masing-masing kaki 1x2, kehilangan akan bertambah lagi 3 dB sehingga menjadi 6 dB; jika dalam splitter 1x8 dua cabang atau 1x2 split akan ditambahkan ke masing-masing kaki 1x4, sehingga kembali ditambahkan 3 dB sehingga total kehilangan menjadi 9 dB, dan begitu seterusnya.
Jumlah cabang keluaran
Kehilangan sisipan (dB)
2
3
4
6
8
9
16
12
32
15
64
18
Pencerai optik dapat dikemas dalam berbagai bentuk dan ukuran serta bergantung kepada teknologi yang digunakan, paling umum dibuat dengan menggunakan kaedah gelombang pandu planar, namun ada juga dengan menggunakan teknologi fused-biconic taper (FBT).

Teknologi akses PON[sunting | sunting sumber]
Dalam pembangunan jaringan dengan teknologi PON, dimana isyarat hilir dari OLT dikirim ke pencerai serat optik untuk digunakan bersama oleh setiap ONU. Semakin panjang jarak feeder serat optik maka pelemahan optik akan semakin tinggi, namun split ratio maksimum berkurang. Sedangkan untuk isyarat hulu dihantar dari ONU ke OLT. Terdapat 4 jenis teknologi berbagai akses penghantaran isyarat untuk digunakan secara bersama pada suatu teknologi jaringan PON tunggal diantaranya seperti[4]:
1.      Akses Berbagai Pembahagian Waktu (Time Division Multiple Access, TDMA)
2.      Akses Berbagai Pembahagian Pembawa Sub (Subcarrier Division Multiple Access, SCMA)
3.      Akses Berbagai Pembahagian Panjang Gelombang (Wavelength Division Multiple Access, WDMA) dan
4.      Akses Berbagai Pembahagian Kode Optik (Optical Code Division Multiple Access, OCDMA)

Protokol PON
Berikut ini protokol PON yang telah sepakati oleh IEEE dan ITU,
Protokol PON
APON/BPON
EPON/GEPON
GPON
Standar
ITU-T G.983
ITU-T G.984
IEEE 802.3ah
Penghantaran
ATM
ATM, TDM, Ethernet
Ethernet
Biaya
Rendah
Sedang
Paling rendah
Lebar jalur hulu
155 Mbps
1.5 Gbps
1.25 Gbps
Lebar jalur hilir
622 Mbps
2.5 Gbps
1.25 Gbps
Penerapan Aplikasi FTTH di Indonesia
Sekarang dengan begitu pesatnya perkembangan kebutuhan akan Layanan Internet dan aplikasi multimedia lainnya, teknologi FTTH saat ini telah menjadi salah satu solusi untuk dapat memberikan layanan Triple Play yang terdiri dari Data (Internet atau Intranet), Voice/Suara (VoIP) dan Video (Interaktive TV dan Multimedia) di dalam satu infrastruktur yang praktis.
Sebagai perbandingan sejak tahun 2007 di Jepang, hampir 70% masyarakat Jepang adalah pengguna internet, dan bersamaan dengan itu, minat masyarakat menjadi pelanggan FTTH juga meningkat pesat seiring dengan menurunnya minat akan Digital Subscriber Line (DSL)[5]. Sedangkan di Indonesia keinginan masyarakat akan internet masih rendah, dan tentunya alih teknologi kepada FTTH itu sendiri belum berpengaruh signifikan.
Saat ini di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, kebutuhan akan akses internet yang cepat sudah cukup tinggi dibandingkan dengan kota-kota lainnya, sehingga keinginan untuk beralih ke FTTH tentunya sudah menjadi gaya hidup tersendiri.
Pemasangan jaringan instalasi serat optik merupakan bahagian yang paling mahal dalam investasi teknologi ini. Beberapa metode instalasi yang telah diperkenalkan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor lain seperti, anggaran yang disediakan, pilihan topologi jaringan, teknologi akses dan protokol, budaya masyarakat sekitar serta estetika. Berikut ini ada tiga metoda yang telah diimplementasikan dalam pemasangan instalasi jaringan serat optik[6]:
1.      Instalasi bawah tanah (direct burial)
2.      Instalasi dalam pipa (duct installation)
3.      Instalasi udara (aerial installation)
The link budget]
Link budget merupakan perhitungan keadaan sebenarnya yang harus dilakukan dalam menentukan beberapa masukan untuk sistem parameter yang akan digunakan dalam aplikasi FTTH. Beberapa pertimbangan yang diperlukan dalam perhitungan ini antaranya besaran sinyal optik dan noise. Faktor ini sangat penting untuk dihitung agar jaringan serat optik benar-benar telah sesuai dengan spesifikasi standar seperti yang direkomendasikan dari ITU dan IEEE.
Pengukuran dan pengujian
Untuk mendapatkan performa yang baik, dan bebas dari kemungkinan kesalahan dalam penghantaran layanan kepada konsumen, maka setiap jaringan instalasi serat optik perlu diuji dan diukur terlebih dahulu. Berikut ini beberapa peralatan optoelektronik yang biasa digunakan dalam pengukuran dan pengujian tersebut:
1.      Optical Loss Test Set (OLTS)
2.      Optical Time-Domain Reflectometer (OTDR)
Dalam pengukuran dan pengujian, salah satu dari kedua peralatan ini biasanya mesti memiliki kemampuan dalam menguji serat optik pada panjang gelombang 1310 nm, 1490 nm, 1550 nm[7], dan 1625 nm[6].
Tujuan utama dari pengujian instalasi serat optik ini adalah untuk menjamin kontinuitas dan kehandalan jaringan dalam memberikan layanan kepada pelanggan. Selain itu juga dapat mengurangi biaya perawatan, waktu yang diperlukan dalam memulihkan jaringan akibat kemungkinan ganguan (faulty) dari komponen-komponen optik yang digunakan seperti konektor (connector) atau sambungan serat optik (splice).



Saturday, October 11, 2014

KEMAKAN MEDIA, KESELEK POLITIK

Suka lucu + sedih kalo liat berita di TV atau baca komen-komen politik di media sosial.
Kenapa??
Waktu sebelum Pemilu Capres dan Wapres kemaren (sebut ada dua Capres ini Tom dan Jerry), ada berita yang isinya menjatuhkan image si Tom. Semuanya heboh karna berita itu dan sebagian masyarakat malah simpatik sama si Tom dan pastinya mengira bahwa berita buruk itu berasal dari Jerry. Otomatis image si Jerry jadi jelek karena dikira melakukan Kampanye Hitam.
Tapi selang beberapa minggu ada berita lagi, ternyata berita yang menjatuhkan Tom sebelumnya adalah buatan Tim Suksesnya si Tom sendiri. Nah Lho!! kalo emang benerankan justru kebalik, Tim Sukses Tom sengaja menyebarkan fitnah terselubung untuk menjatuhkan si Jerry.
Terus sekarang, setelah Pilpres selesai dan sudah ada Presiden terpilih, fitnah terselubungpun masih ada. Ada berita lagi yang maksudnya menjatuhkan Tom dan masyarakat langsung heboh dan menyalahkan si Jerry. Tapi ga lama Tim Sukses Jerry langsung klarifikasi kalau berita terakhir itu cuma hoax, bukan dari sisi si Jerry.

Disini Gw netral kok, cuma gw mau ngajak sedikit mikir, begini:
Ada berita yang ngejelekin si A, biasanya sebagian masyarakat langsung ngira itu adalah kampanye hitam si B. Padahal hal kan belum tentu juga. Bisa jadi itu adalah perbuatan Tim Suksesnya si A sendiri yang merupakan taktik untuk menjatuhkan si B dengan tipuan terselubung, seperti cerita gw sebelumnya.
Selain itu kita sebagai masyarakat biasa, tidak tau keadaan yang sebenarnya diatas sana, siapa yang benar-benar memperjuangkan rakyat, siapa yang hanya memakai "topeng" atas nama rakyat. Apalagi kedua kubu ini sama-sama mempunyai media penyiaran.
Pesennya sih jangan keburu kemakan berita-berita di media, karna medianya sendiri udah dijadiin alat kampanye.
Kalo Gw sendiri ngerasa negara kita lagi mau "diberantakin" sama negara lain, kita segaja di adu domba supaya pecah dan nantinya akan ada negara lain masuk dan dengan mudah mengendalikan Indonesia ini.
Katanya udah pada modern, banyak Sarjana, Magister, Doktor sampe aktor tapi kok gampang banget dibodohin???

Sunday, August 12, 2012

Installasi CCTV Pada Project Pembangunan

Seperti menghadapi Project Installasi Pembangunan yang lain, kita harus  membaca dan mengecek BoQ yang kita terima dulu. Pastikan scope perkerjaan kita sampai mana. Disini saya akan ibaratkan pekerjaan Installasi CCTV ini full dari kita. Berikut yang perlu pastikan:
1. Fungsi dari Kamera CCTV
    Ada 2 fungsi yang saya tahu, pertama untuk capture dan kedua adalah 
    recording.
2. Tipe Kamera
    Ada Analog dan ada yang sudah IP Base. Fixed atau PTZ. Indoor atau 
    Outdoor. PoE atau tidak.
Fixed Dome Indoor
Fixed Outdoor

3. Design Network
    Mulai dari Single Line Diagram sampai Shop Drawing. Ini berhubungan 
    dengan tipe kamera. 
Contoh Shop Drawing
    
4. Design Tampilan CCTV di Layar Monitoring.
    Pastikan Anda memakai Software Management apa. Misalnya: ACS,  
    Milestone, Axxon. Setiap Software Management mempunyai kelebihan dan  
    kekurangan masing-masing. Mulai dari kemampuan menangani berapa 
    banyak kamera sampai berapa banyak tampilan kamera di layar monitoring.
Contoh Layout Monitor

Contoh Layout Monitor




5. Hardware Support
    Seperti Server, Switch, PC Monitoring, DVR.
6. Cabling
    Saya sarankan untuk IP Base Anda menggunakan UTP Cat6, karena 
    bandwith dibutuhkan biasanya besar. Kalau untuk kamera Analog memakai 
    kabel koaksial. Dan untuk Backbone menggunakan FO. Karena kemampuan 
    rekomendasi untuk kabel UTP 100 meter.
7. Schedule
    Syncronisasi dengan schedule di lapangan. Pastikan pekerjaan sipil sudah 
    siap, baru kita bisa melakukan mapping di area. Jika sudah rapih tertutup 
    plafon dan keamanan terjamin, semua system running barulah pasang 
    kamera.



Untuk saat ini, hanya ini yang bisa saya share. Maaf kalo masih banyak kekurangan ^_^

@Randi_Fajar

Wednesday, October 19, 2011

Juniper SRX - Configuration Rollback


Overview

After you commit a configuration, it becomes the active configuration. For SRX Series devices running JUNOS Release 10.0 or later, 5 previous versions of commited configurations are saved, in addition to the active configuration. You can also create one rescue configuration, which allows you to have a known working configuration that you can roll back to at any time. For information about the configurations that are automatically saved, see KB15721.

You can make one of the previous configurations or the rescue configuration the active configuration by using therollback command. 


J-Web Configuration

Reviewing Configurations Available for Rollback

To review the configurations available for rollback:

  1. Select Maintain>Config Management>History. All configurations available for rollback are listed.

Comparing the Active Configuration to a Previous Configuration

To compare the active configuration to a previous configuration:
  1. Select Maintain>Config Management>History. All configurations available for rollback are listed.
  2. To compare configurations, select the check box for two configurations, and click Compare. The differences between the configurations are listed.

Rolling Back to a Previous Configuration

To roll back to a previous configuration:

  1. Select Maintain>Config Management>History. All configurations available for rollback are listed.
  2. Click the Rollback link for the configuration for which you want to rollback.
  3. Click Commit to activate the configuration.

Creating and Rolling Back to a Rescue Configuration


A rescue configuration allows you to define a known working configuration or a configuration with a known state that you can roll back to at any time. This alleviates the necessity of having to remember the rollback number with the rollback command. You use the rescue configuration when you need to roll back to a known configuration or as a last resort if your router configuration and the backup configuration files become damaged beyond repair.

To create a rescue configuration:

  1. Select Maintain>Config Management>Rescue.
  2. Click the Set rescue configuration link.
  3. When prompted to confirm creating the rescue configuration, click OK.
To roll back to the rescue configuration, use the CLI. For more information, see CLI Configuration.



CLI Configuration


Reviewing Configurations Available for Rollback
To review the configurations available for rollback, use the rollback ? command:

user@host# rollback ?Possible completions:
<[Enter]> Execute this command
0 2010-02-01 10:35:44 GMT-8 by user via cli 
1 2010-01-31 23:28:46 GMT-8 by user via junoscript 
2 2010-01-21 16:58:32 GMT-8 by user via junoscript 
3 2010-01-22 08:54:40 GMT-8 by user via cli 
4 2010-01-22 00:37:31 GMT-8 by user via junoscript 
5 2010-01-22 16:27:37 GMT-8 by user via cli 
rescue 2010-01-21 16:59:44 GMT-8 by user via junoscript 
| Pipe through a command

In the previous example, a rescue configuration has been created and can be used for a rollback, in addition to the five previous active configurations. 


Comparing the Active Configuration to a Previous Configuration 


To compare the active configuration to a previous configuration, use the show config | compare rollbacknumber. In the following example, the active configuration is compared to previous configuration number 1.

user@host> show config | compare rollback 1
[edit system login]
+ user jdoe {
+ uid 2002;
+ class super-user;
+ authentication {
+ encrypted-password "$1$S71OgI/t$MQ4b/87d4GMs986Rd6vWK/"; ## SECRET-DATA
+ }
+ }

In this example, the difference between the two configurations is that a new user account was created. 


Rolling Back to a Previous Configuration


To roll back to a previous configuration, use the rollback command. In the following example, previous configuration number 2 is the configuration to be used for the rollback.

user@host# rollback 2load complete

After you have rolled back the configuration, you must use the commit command to activate the configuration:

user@host# commit

The configuration is now the active configuration.


Creating and Rolling Back to a Rescue Configuration

A rescue configuration allows you to define a known working configuration or a configuration with a known state that you can roll back to at any time. This alleviates the necessity of having to remember the rollback number with the rollback command. You use the rescue configuration when you need to roll back to a known configuration or as a last resort if your router configuration and the backup configuration files become damaged beyond repair.  

To create a rescue configuration, use the request system configuration rescue save operational mode command:

user@host> request system configuration rescue save
To roll back to the rescue configuration, use the rollback rescue command:

user@host# rollback rescue
load complete
After rolling back to the rescue configuration, you must commit the configuration to activate it:

user@host# 
commit
On SRX100, SRX210, SRX240, and SRX650 devices, you can also press and quickly release the Reset Config button to load and commit the rescue configuration. For more information, see the hardware documentation for your device at http://www.juniper.net/techpubs/hardware/junos-srx/index.html.



Sumber : http://kb.juniper.net/InfoCenter/index?page=content&id=KB15788