Monday, September 26, 2011

Install Active Directory / Domain Controller di Windows Server 2008


  1. Start > Run
    Start > Run
  2. Ketikkan dcpromo > OK
    dcpromo
  3. Jika tampil layar seperti di bawah, klik Continue saja
    Continue
  4. Tunggu hingga proses berikut selesai
    checking
    checking
  5. Pada jendela Installation Wizard, klik Next>
    installation wizard
  6. Pada Operating System Compatibility, silahkan baca dahulu informasi di sana, lalu klik Next>
    Operating System Compatibility
  7. Buat domain baru, pilih Create a new domain in a new forest > Next>
    Deployment Configuration
  8. Ketikkan nama forest root domain, misalnya wowtest.com
    forest root domain
  9. Tunggu hingga proses pengecekan selesai.
    checking
    checking
  10. Pada Forest Functional Level, di sini saya pilih Windows 2000. Perhatikan setiap informasi dari masing-masing pilihan di sana. Pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan anda. Jika sudah klik Next>
    forest functional level
  11. Setelah itu kita akan memilih Domain Functional Level, di sini saya memilih Windows Server 2003. Sekali lagi, perhatikan setiap informasi dari masing-masing pilihan dan pilih sesuai kebutuhan anda. Lalu klik Next>
    domain functional level
  12. Pada Additional Domain Controller Options, centang pada DNS server. Lalu klik Next>
    Additional Domain Controller Option
  13. Jika anda menemui jendela berikut ini, pilih “Yes,…..”
    dynamically assigned IP addess
  14. Continue, klik Yes
    continue
  15. Pilih lokasi penyimpanan Database, Log Files, dan SYSVOL. Default penyimpanan seperti pada gambar. Klik Next>
    Lokasi Database, Log Files, dan SYSVOL
  16. Masukkan password untuk Administrator dua kali (harus sama), baca keterangan di sana. Jika sudah klik Next>
    administrator password
  17. Berikut hasil dari semua setting atau option-option yang telah anda pilih sebelumnya. Pastikan semua option benar dan sesuai dengan yang anda maksud. Jika sudah yakin, klik Next> untuk memulai proses installasi
    summary
  18. Tunggu hingga proses installasi selesai.
    DNS installation
    Installing Group Policy Management Console
    creating directory partition
  19. Proses installasi selesai. Klik Finish untuk menutup wizard.
    finish
  20. Restart komputer anda, klik Restart Now
    restart
  21. Setelah komputer restart, buka Start > Administratif Tools
    Di sana anda akan menemukan fitur-fitur berikut dari proses installasi di atas :
    - Active Directory Domains and Trusts
    - Active Directory Sites and Services
    - Active Directory Users and Computers
    - ADSI Edit
    - DNS
    - Group Policy Management
    installed
Sekarang Active Directory / Domain Controller + DNS server telah berhasil terinstall di Windows Server 2008.

Friday, September 23, 2011

How To Install DD-WRT on Linksys E1000

1. Read the Peacock Announcement. 
2. Download dd-wrt.v24-15279_NEWD-2_K2.6_mini_e1000.bin. If you wish to experiment with a newer build, you should read the "build thread" for any build you are considering putting on your router, before flashing a newer build, (as discussed in the peacock announcement).
3. Set a static IP on your computer to 192.168.1.7. Subnet mask should be 255.255.255.0
4. Connect the lan cable from your computer to a LAN port of your router. Make sure your router is plugged in. Nothing should be connected to your computer or the router except the lan cable between them.
5. Ensure you have a physical ethernet connection to your router, and disable your wireless adapter, antivirus/firewall protection, and any software that makes strong use of your network (BitTorrent, Streaming Audio/Video, etc).
6. Perform a hard 30/30/30 reset. 
7. Navigate to http://192.168.1.1/ in your web browser of choice. 
8. At the Linksys Management Mode screen, do not give the reboot command. You will use this page to upgrade your firmware.
9. Browse to the firmware you downloaded and click Upload. 
10. Do not touch anything. The page will tell you that the upgrade was successful and the router is now rebooting. Your router may take upwards of a couple minutes to reboot. Watch the lights... once the wireless and power indicators are on steadily for several seconds, your router is fully rebooted and you can click "Continue" in your browser window.
11. If the DD-WRT password change page displays, your upgrade has been successful, and you must now perform another hard 30/30/30. This time, when you navigate to http://192.168.1.1/, click "Reboot" and wait for the router to come online again so you can configure it.If the DD-WRT password change page does not display, your page request times out, or you can't ping 192.168.1.1, make sure both wireless and power lights are on steadily first, then do a hard power cycle (unplug the power from the router--do not do a 30/30/30 reset). Wait a few seconds and plug the power back into the router. Wait until both wireless and power lights are on steadily, then navigate to http://192.168.1.1/ in your browser of choice again. If the DD-WRT password change page displays, your upgrade has been successful, and you must now perform another hard 30/30/30. This time, when you navigate to 192.168.1.1, click "Reboot" and wait for the router to come 
online again so you can configure it.


sumber: http://gdgt.com/question/how-to-install-dd-wrt-on-linksys-e1000-dy9/

Monday, September 19, 2011

RAID Harddisk


RAID, singkatan dari Redundant Array of Independent Disks merujuk kepada sebuah teknologi di dalam penyimpanan data komputer yang digunakan untuk mengimplementasikan fiturtoleransi kesalahan pada media penyimpanan komputer (utamanya adalah hard disk) dengan menggunakan cara redundansi (penumpukan) data, baik itu dengan menggunakanperangkat lunak, maupun unit perangkat keras RAID terpisah. Kata "RAID" juga memiliki beberapa singkatan Redundant Array of Inexpensive DisksRedundant Array of IndependentDrives, dan juga Redundant Array of Inexpensive Drives. Teknologi ini membagi atau mereplikasi data ke dalam beberapa hard disk terpisah. RAID didesain untuk meningkatkan keandalan data dan/atau meningkatkan kinerja I/O dari hard disk.
Sejak pertama kali diperkenalkan, RAID dibagi ke dalam beberapa skema, yang disebut dengan "RAID Level". Pada awalnya, ada lima buah RAID level yang pertama kali dikonsepkan, tetapi seiring dengan waktu, level-level tersebut berevolusi, yakni dengan menggabungkan beberapa level yang berbeda dan juga mengimplementasikan beberapa level proprietary yang tidak menjadi standar RAID.
RAID menggabungkan beberapa hard disk fisik ke dalam sebuah unit logis penyimpanan, dengan menggunakan perangkat lunak atau perangkat keras khusus. Solusi perangkat keras umumnya didesain untuk mendukung penggunaan beberapa hard disk secara sekaligus, dan sistem operasi tidak perlu mengetahui bagaimana cara kerja skema RAID tersebut. Sementara itu, solusi perangkat lunak umumnya diimplementasikan di dalam level sistem operasi, dan tentu saja menjadikan beberapa hard disk menjadi sebuah kesatuan logis yang digunakan untuk melakukan penyimpanan.


Konsep

Ada beberapa konsep kunci di dalam RAID: mirroring (penyalinan data ke lebih dari satu buah hard disk), striping (pemecahan data ke beberapa hard disk) dan juga koreksi kesalahan, di mana redundansi data disimpan untuk mengizinkan kesalahan dan masalah untuk dapat dideteksi dan mungkin dikoreksi (lebih umum disebut sebagai teknik fault tolerance/toleransi kesalahan).
Level-level RAID yang berbeda tersebut menggunakan salah satu atau beberapa teknik yang disebutkan di atas, tergantung dari kebutuhan sistem. Tujuan utama penggunaan RAID adalah untuk meningkatkan keandalan/reliabilitas yang sangat penting untuk melindungi informasi yang sangat kritis untuk beberapa lahan bisnis, seperti halnya basis data, atau bahkan meningkatkan kinerja, yang sangat penting untuk beberapa pekerjaan, seperti halnya untuk menyajikan video on demand ke banyak penonton secara sekaligus.
Konfigurasi RAID yang berbeda-beda akan memiliki pengaruh yang berbeda pula pada keandalan dan juga kinerja. Masalah yang mungkin terjadi saat menggunakan banyak disk adalah salah satunya akan mengalami kesalahan, tapi dengan menggunakan teknik pengecekan kesalahan, sistem komputer secara keseluruhan dibuat lebih andal dengan melakukan reparasi terhadap kesalahan tersebut dan akhirnya "selamat" dari kerusakan yang fatal.
Teknik mirroring dapat meningkatkan proses pembacaan data mengingat sebuah sistem yang menggunakannya mampu membaca data dari dua disk atau lebih, tapi saat untuk menulis kinerjanya akan lebih buruk, karena memang data yang sama akan dituliskan pada beberapa hard disk yang tergabung ke dalam larik tersebut. Teknik striping, bisa meningkatkan performa, yang mengizinkan sekumpulan data dibaca dari beberapa hard disk secara sekaligus pada satu waktu, akan tetapi bila satu hard disk mengalami kegagalan, maka keseluruhan hard disk akan mengalami inkonsistensi. Teknik pengecekan kesalahan juga pada umumnya akan menurunkan kinerja sistem, karena data harus dibaca dari beberapa tempat dan juga harus dibandingkan dengan checksum yang ada. Maka, desain sistem RAID harus mempertimbangkan kebutuhan sistem secara keseluruhan, sehingga perencanaan dan pengetahuan yang baik dari seorang administrator jaringan sangatlah dibutuhkan. Larik-larik RAID modern umumnya menyediakan fasilitas bagi para penggunanya untuk memilih konfigurasi yang diinginkan dan tentunya sesuai dengan kebutuhan.
Beberapa sistem RAID dapat didesain untuk terus berjalan, meskipun terjadi kegagalan. Beberapa hard disk yang mengalami kegagalan tersebut dapat diganti saat sistem menyala (hot-swap) dan data dapat diperbaiki secara otomatis. Sistem lainnya mungkin mengharuskan shutdown ketika data sedang diperbaiki. Karenanya, RAID sering digunakan dalam sistem-sistem yang harus selalu on-line, yang selalu tersedia (highly available), dengan waktu down-time yang, sebisa mungkin, hanya beberapa saat saja.
Pada umumnya, RAID diimplementasikan di dalam komputer server, tapi bisa juga digunakan di dalam workstation. Penggunaan di dalam workstation umumnya digunakan dalamkomputer yang digunakan untuk melakukan beberapa pekerjaan seperti melakukan penyuntingan video/audio.


Sejarah
Pada tahun 1978Norman Ken Ouchi dari International Business Machines (IBM) dianugerahi paten Amerika Serikat, dengan nomor 4092732 dengan judul "System for recovering data stored in failed memory unit." Klaim untuk paten ini menjelaskan mengenai apa yang kemudian dikenal sebagai RAID 5 dengan penulisan stripe secara penuh. Patennya pada tahun 1978 tersebut juga menyebutkan bahwa disk mirroring atau duplexing (yang kini dikenal sebagai RAID 1) dan juga perlindungan dengan paritas khusus yang didedikasikan (yang kini dikenal dengan RAID 4) bisa digunakan, meskipun saat itu belum ada implementasinya.
Istilah "RAID" pertama kali didefinisikan oleh David A. PattersonGarth A. Gibson dan Randy Katz dari University of CaliforniaBerkeleyAmerika Serikat pada tahun 1987, 9 tahun berselang setelah paten yang dimiliki oleh Norman Ken Ouchi. Mereka bertiga mempelajari tentang kemungkinan penggunaan dua hard disk atau lebih agar terlihat sebagai sebuah perangat tunggal oleh sistem yang menggunakannya, dan kemudian mereka mempublikasikannya ke dalam bentuk sebuah paper berjudul "A Case for Redundant Arrays of Inexpensive Disks (RAID)" pada bulan Juni 1988 pada saat konferensi SIGMOD. Spesifikasi tersebut menyodorkan beberapa purwarupa RAID level, atau kombinasi dari drive-drive tersebut. Setiap RAID level tersebut secara teoritis memiliki kelebihan dan juga kekurangannya masing-masing. Satu tahun berselang, implementasi RAID pun mulai banyak muncul ke permukaan. Sebagian besar implementasi tersebut memang secara substansial berbeda dengan RAID level yang asli yang dibuat oleh Patterson dan kawan-kawan, tapi implementasi tersebut menggunakan nomor yang sama dengan apa yang ditulis oleh Patterson. Hal ini bisa jadi membingungkan, sebagai contoh salah satu implementasi RAID 5 dapat berbeda dari implementasi RAID 5 yang lainnya. RAID 3 dan RAID 4 juga bisa membingungkan dan sering dipertukarkan, meski pada dasarnya kedua jenis RAID tersebut berbeda.
Patterson menulis lima buah RAID level di dalam papernya, pada bagian 7 hingga 11, dengan membagi ke dalam beberapa level, sebagai berikut:
  • RAID level pertama: mirroring
  • RAID level kedua : Koreksi kesalahan dengan menggunakan kode Humming
  • RAID level ketiga : Pengecekan terhadap disk tunggal di dalam sebuah kelompok disk.
  • RAID level keempat: Pembacaan dan penulisan secara independen
  • RAID level kelima : Menyebarkan data dan paritas ke semua drive (tidak ada pengecekan terhadap disk tunggal)

Monday, September 5, 2011

Tunneling (Analogi)


Misal lo punya motor (paket data A), lo tinggal di kota X. Nah, lo pengen pergi ke suatu kota Y diujung sana.. nah celakanya tuh kota Y cuman bisa ditempuh lewat jalaon tol.. which is motor gak boleh masuk...

Akhirnya lo dapat ide pergi ke kota Y. Caranya dengan pesen mobil box (paket B) somewhere dan masukin motor lo kedalem. Trus lo melenggang deh ke kota Y. Sesampainya di kota Y lo keluarin tuh motor, dan akhirnya lo jalan2 dengan senang di kota Y sambil mamerin motor lo...Nah pada kasus itu tunneling adalah memasukkan motor (paket A) kedalam mobil box (paket B). Tujuannya? Supaya motor (paket A) yang jalannya harusnya cuman boleh di jalan kampung (protokol paket A) bisa lewat jalan tol (protokol paket B). dasarnya sih itu, supaya suatu paket bisa dilewatin paket laen..Tujuanmacem-macem, mulai dari sekuritas, kejebak firewall, sampe yang "nakal"...

Intinya tunneling itu melewatkan koneksi dari sebuah protokol melalui protokol lain. Jadi mungkin beda antara tunneling dan proxy adalah apakah datanya dibungkus dulu dengan tipe protokol yg berbeda. misalnya melewatkan koneksi HTTP melalui SSH, jadi datanya aman sampai ke tujuan
atau chatting dengan YM! jika port 5000 diblock, masih bisa dgn melalui port 80 (http)