Monday, October 17, 2011

PING dan TRACE ROUTE

Kadang-kadang alamat web yang sering kita kunjungi tidak dapat diakses secepat 
biasanya, di internet hal ini dapat terjadi karena beberapa sebab, yang paling 
sering adalah karena jalur internet yang kita lalui memang sedang melambatatau 
penuh atau server dari alamat web tersebut sedang diakses  oleh   banyak orang 
sehingga membutuhkan waktu bagi server tersebut untuk memproses permintaan kita.

Memang sulit untuk mendeteksi permasalahan yang ada pada server remote (server 
yang terletak di tempat lain), tetapi ada beberapa software yang dapat membantu 
kita untuk mendeteksi kondisi jaringan yang kita lalui.

Dua software yang paling sering penulis pakai untuk mendeteksi jaringan adalah 
ping dan traceroute. Utility tersebut pada mulanya diciptakan untuk sistem 
operasi Unix, tetapi sekarang juga diterapkan pada DOS dan Windows, bernama ping 
dan tracert. Juga ada versi dari program ini yang berjalan pada Macintosh. Untuk 
artikel ini, penulis mengasumsikan pembaca menggunakan Unix atau Linux,   tetapi 
cara yang sama dapat diterapkan pada DOS dan Windows.

Penulis akan memulai dengan ping. Ping bekerja dengan mengirimkan sebuah paket 
data yang disebut dengan Internet Control Message Protocol (ICMP) Echo Request. 
Paket ICMP ini biasanya digunakan untuk mengirimkan informasi tentang kondisi 
jaringan antara dua host (komputer). Informasi yang dikirim kurang lebih adalah 
“jangan lakukan itu”, “kirimkan paket yang lebih kecil”, “data yang anda cari 
tidak ada”, “jangan kesini, anda harusnya kesana”. Jika sebuah host menerima 
Echo Request ini, dia harus merespon dengan mengirimkan Echo Reply, dengan 
menempatkan Echo Request ke bagian data pada Echo Reply.

Penggunaan ping cukup sederhana, kita tinggal mengetikkan : ping namahost,dimana 
namahost adalah nama atau nomor IP dari host yang kita tuju. Banyak sekali versi 
dari    ping, tetapi jika anda menggunakan ping milik Linux, maka outputnya akan 
menjadi seperti berikut :

$ ping www.silvia.com
PING silvia.com (198.168.0.2): 56 data bytes 
64 bytes from 198.168.0.2: icmp_seq=0 ttl=253 time=0.398 ms 
64 bytes from 198.168.0.2: icmp_seq=1 ttl=253 time=0.552 ms 
64 bytes from 198.168.0.2: icmp_seq=2 ttl=253 time=0.554 ms 
64 bytes from 198.168.0.2: icmp_seq=3 ttl=253 time=0.553 ms 
64 bytes from 198.168.0.2: icmp_seq=4 ttl=253 time=0.554 ms 
64 bytes from 198.168.0.2: icmp_seq=5 ttl=253 time=0.551 ms 
64 bytes from 198.168.0.2: icmp_seq=6 ttl=253 time=0.552 ms 
64 bytes from 198.168.0.2: icmp_seq=7 ttl=253 time=0.554 ms 
64 bytes from 198.168.0.2: icmp_seq=8 ttl=253 time=0.554 ms 
64 bytes from 198.168.0.2: icmp_seq=9 ttl=253 time=0.553 ms 
^C
----localhost PING Statistics----
10 packets transmitted, 10 packets received, 0% packet loss 
round-trip min/avg/max = 0.398/0.537/0.554 ms $

yang terjadi ketika kita melakukan ping ke www.silvia.com adalah kita mengirim satu 
paket ICMP Echo Request, setiap detik ke host tersebut. Ketika program ping    kita 
memperoleh Echo Reply dari host yang kita tuju (www.silvia.com), dia akan   mencetak
respon tersebut ke layar yang menunjukkan ke kita beberapa informasi : yang pertama 
adalah nomor IP dari mana ping memperoleh Echo Reply, biasanya IP ini adalah IP dari 
host yang kita tuju (www.silvia.com), yang kedua adalah nomor urut (ICMP Sequence), 
yang dimulai dari 0 dan seterusnya, yang ketiga adalah Time To Live (TTL) dan yang 
terakhir adalah berapa mili detik waktu yang diperlukan untuk program ping mendapatkan 
balasan.Informasi-informasi tersebut akan penulis jelaskan satu persatu sebagai berikut.

Nomor urut yang didapat menandakan paket ping yang keberapa yang dibalas, jika nomor 
yang didapat tidak berurutan, berarti ada paket yang drop, dengan kata lain entah itu 
Echo Request atau Echo Reply hilang di tengah jalan. Jika jumlah paket yang hilang 
sedikit (kurang dari satu persen), hal ini masih normal. Tapi jika paket yang hilang 
banyak sekali, berarti ada masalah pada koneksi jaringan kita.

Informasi berikutnya adalah Time To Live, setiap paket data yang dikirimkan melalui 
jaringan memiliki informasi yang disebut TTL, biasanya TTL ini diisi dengan angka 
yang relatif tinggi, (paket ping memiliki TTL 255). Setiap kali paket tersebut melewati 
sebuah router maka angka TTL ini akan dikurangi dengan satu, jika TTL suatu paket 
akhirnya bernilai 0, paket tersebut akan di drop atau dibuang oleh router yang 
menerimanya. Menurut aturan RFC untuk IP, TTL harus bernilai 60 (dan untuk ping 255). 
Kegunaan utama dari TTL ini supaya paket-paket data yang dikirim tidak ‘hidup’ 
selamanya di dalam jaringan. Kegunaan yang lain, dengan informasi ini kita dapat 
mengetahui kira-kira berapa router yang dilewati oleh paket tersebut, dalam hal ini 255 
dikurangi dengan N, dimana N adalah TTL yang kita lihat pada Echo Reply.

Jika TTL yang kita dapatkan sewaktu kita melakukan ping berbeda-beda, ini menandakan 
bahwa paket-paket ping yang kita kirim berjalan melewati router yang berbeda-beda, 
hal ini menandakan koneksi yang tidak baik.

Informasi waktu yang diberikan oleh ping adalah waktu perjalanan pulang pergi ke remote 
host yang diperlukan oleh satu paket. Satuan yang dipakai adalah mili detik, semakin 
kecil angka yang dihasilkan, berarti semakin baik (baca : cepat) koneksinya. Waktu 
yang dibutuhkan suatu paket untuk sampai ke host tujuan disebut dengan latency. Jika 
waktu pulang pergi suatu paket hasil ping menunjukkan variasi yang besar (diatas 100), 
yang biasa disebut jitter, itu berarti koneksi kita ke host tersebut jelek. Tetapi 
jika selisih tersebut hanya terjadi pada sejumlah kecil paket, hal tersebut masih dapat 
ditoleransi.

Untuk menghentikan proses ping, tekan Ctrl+C, setelah itu ping akan mencetak informasi 
tentang berapa paket yang telah dikirimkan, berapa yang diterima, persentasi paket yang 
hilang dan angka maksimum, minimum serta rata-rata dari waktu yang dibutuhkan oleh 
paket tersebut untuk melakukan perjalanan pulang pergi.

Seperti yang anda lihat, ping berguna untuk melakukan tes konektivitas pada jaringan 
dan untuk memperkirakan kecepatan koneksi.

Berikutnya kita akan mempelajari traceroute (atau tracert di dalam windows) yang akan 
menunjukkan pada kita jalur router yang dilewati oleh paket yang kita kirimkan ke host 
tertentu. Untuk lebih memperjelas, berikut ini adalah contoh hasil traceroute ke 
www.berkeley.edu:

$ traceroute www.berkeley.edu
traceroute to amber.Berkeley.EDU (128.32.25.12), 30 hops max, 40 byte packets 
1 203.130.216.2 (203.130.216.2) 137 ms 151 ms 151 ms
2 203.130.216.1 (203.130.216.1) 151 ms 137 ms 138 ms
3 192.168.8.49 (192.168.8.49) 137 ms 151 ms 151 ms
4 S12-0-11.kbl.surabaya.telkom.net.id (202.134.3.45) 192 ms 151 ms 151 ms
5 FE0-0-gw3.cibinong.telkom.net.id (202.134.3.134) 165 ms 151 ms 151 ms
6 hssi-gw3.hk.telkom.net.id (202.134.3.1) 659 ms 659 ms 645 ms
7 202.130.129.61 (202.130.129.61) 645 ms 687 ms 659 ms
8 321.ATM5-0-0.XR1.HKG2.ALTER.NET (210.80.3.1) 645 ms 659 ms 645 ms
9 POS1-0-0.TR1.HKG2.Alter.Net (210.80.48.21) 672 ms 646 ms 645 ms
10 384.ATM4-0.IR1.LAX12.Alter.Net (210.80.50.189) 838 ms 796 ms 796 ms 
11 137.39.31.222 (137.39.31.222) 810 ms 852 ms 810 ms
12 122.at-5-1-0.TR1.LAX9.ALTER.NET (152.63.10.237) 824 ms 810 ms 810 ms
13 297.at-1-0-0.XR1.LAX9.ALTER.NET (152.63.112.237) 824 ms 838 ms 824 ms
14 191.ATM6-0.BR1.LAX9.ALTER.NET (152.63.113.9) 837 ms 797 ms 810 ms
15 acr1-loopback.Anaheim.cw.net (208.172.34.61) 810 ms 1071 ms 782 ms
16 acr1-loopback.SanFranciscosfd.cw.net (206.24.210.61) 783 ms 810 ms 769 ms
17 BERK-7507--BERK.POS.calren2.net (198.32.249.69) 810 ms 1126 ms 796 ms
18 pos1-0.inr-000-eva.Berkeley.EDU (128.32.0.89) 796 ms 824 ms 796 ms
19 pos5-0-0.inr-001-eva.Berkeley.EDU (128.32.0.66) 796 ms 783 ms 783 ms
20 fast1-0-0.inr-007-eva.Berkeley.EDU (128.32.0.7) 810 ms 810 ms 797 ms
21 f8-0.inr-100-eva.Berkeley.EDU (128.32.235.100) 797 ms 782 ms 769 ms
22 amber.Berkeley.EDU (128.32.25.12) 796 ms 769 ms 810 ms

Traceroute akan menampilkan titik-titik perantara yang menjembatani anda dan titik 
tujuan anda, ‘jembatan’ inilah yang biasa disebut dengan router, data yang anda 
kirimkan akan meloncat melewati jembatan-jembatan ini. Ada tiga buah waktu yang 
menunjukkan berapa waktu yang dibutuhkan oleh paket tersebut untuk berjalan dari 
komputer anda ke router.Untuk dapat memahami seluruh data yang dihasilkan oleh 
traceroute tersebut, kita harus memahami bagaimana cara traceroute bekerja. 
Traceroute menggunakan prinsip TTL dan paket ICMP yang sudah kita singgung diatas.

Traceroute mengirimkan sebuah paket ke port UDP yang tidak dipakai oleh servis 
lain pada komputer tujuan (defaultnya adalah port 33434). Untuk tiga paket pertama, 
traceroute mengirimkan paket yang memiliki TTL satu, maka sesampainya paket tersebut 
pada router pertama (menghasilkan loncatan yang pertama) TTL akan dikurangi dengan 
satu sehingga menjadi 0 kemudian paket tersebut akan di drop. Berikutnya router 
tersebut akan mengirimkan paket ICMP ke komputer kita yang berisi pemberitahuan bahwa 
TTL dari paket yang kita kirimkan sudah habis dan paket yang kita kirimkan di drop. 
Dari pesan ini, traceroute dapat menentukan nama router tempat data kita meloncat dan 
berapa waktu yang dibutuhkannya. Berikutnya traceroute akan mengirimkan paket dengan 
nilai TTL yang ditambah satu demi satu sampai host tujuan dicapai. Karena itu 
traceroute menggunakan port yang tidak dipakai oleh servis lain sehingga paket 
yang dikirim mendapat respon dan tidak ‘dimakan’ oleh servis lain yang mungkin ada.

Berikut ini adalah contoh yang lebih kompleks dengan melakukan traceroute ke finland:

% traceroute www.hut.fi
traceroute to info-e.hut.fi (130.233.224.28), 30 hops max, 40-byte packets
1 203.130.216.2 (203.130.216.2) 137 ms 124 ms 137 ms
2 203.130.216.1 (203.130.216.1) 137 ms 124 ms 124 ms
3 192.168.8.49 (192.168.8.49) 137 ms 151 ms 151 ms
4 S12-0-11.kbl.surabaya.telkom.net.id (202.134.3.45) 192 ms 151 ms 151 ms
5 FE0-0-gw3.cibinong.telkom.net.id (202.134.3.134) 164 ms 165 ms 151 ms
6 hssi-gw3.hk.telkom.net.id (202.134.3.1) 673 ms 645 ms 645 ms
7 202.130.129.61 (202.130.129.61) 659 ms 646 ms 659 ms
8 321.ATM5-0-0.XR1.HKG2.ALTER.NET (210.80.3.1) 659 ms 645 ms 659 ms
9 POS1-0-0.TR1.HKG2.Alter.Net (210.80.48.21) 659 ms 632 ms 659 ms
10 284.ATM6-0.IR1.SAC2.Alter.Net (210.80.50.1) 797 ms 823 ms 797 ms
11 POS2-0.IR1.SAC1.ALTER.NET (137.39.31.190) 796 ms 1566 ms 810 ms
12 122.at-6-1-0.TR1.LAX9.ALTER.NET (152.63.10.218) 838 ms 823 ms 824 ms
13 297.at-2-0-0.XR1.SAC1.ALTER.NET (152.63.50.133) 933 ms 824 ms 838 ms
14 185.ATM5-0.BR4.SAC1.ALTER.NET (152.63.52.201) 810 ms 824 ms 851 ms
15 137.39.52.86 (137.39.52.86) 810 ms 1071 ms 810 ms
16 sl-bb21-ana-15-0.sprintlink.net (144.232.1.173) 769 ms (ttl=246!) 796 ms (ttl=246!) 783 ms (ttl=246!)
17 sl-bb20-pen-8-0.sprintlink.net (144.232.18.45) 893 ms 851 ms (ttl=245!) 893 ms
18 sl-bb22-pen-11-0.sprintlink.net (144.232.18.78) 893 ms (ttl=244!) 879 ms (ttl=244!) 879 ms (ttl=244!)
19 sl-bb10-nyc-9-0.sprintlink.net (144.232.7.1) 865 ms 879 ms 879 ms
20 sl-bb10-nyc-10-0.sprintlink.net (144.232.13.158) 879 ms 892 ms 893 ms
21 gblon505-tc-p6-3.ebone.net (195.158.229.46) 865 ms 879 ms 920 ms
22 bebru204-tc-p5-0.ebone.net (195.158.232.42) 961 ms 948 ms 934 ms
23 nlams303-tc-p1-0.ebone.net (195.158.225.86) 962 ms 961 ms 934 ms
24 dedus205-tc-p8-0.ebone.net (213.174.70.133) 934 ms 961 ms 947 ms
25 dkcop204-tb-p3-0.ebone.net (213.174.71.50) 975 ms 975 ms *
26 * * *
27 ne-gw.nordu.net (195.158.226.86) 1002 ms 962 ms 1016 ms
28 hutnet-gw.csc.fi (128.214.248.65) 1027 ms (ttl=238!) 1040 ms (ttl=238!) 1026 ms (ttl=238!)
29 hutnet-gw.hut.fi (193.166.43.253) 1020 ms 1037 ms 1023 ms
30 info-e.hut.fi (130.233.224.28) 1091 ms (ttl=46!) 1027 ms (ttl=46!) 1067 ms (ttl=46!) 

Baris pertama hanya menunjukkan apa yang akan dilakukan oleh traceroute yaitu melakukan 
trace ke host yang bernama info-e.hut.fi dengan maksimum loncatan 30 dan besar paket 
yang dikirimkan adalah 40 byte.

Hasilnya, paket tersebut melewati 30 router atau 30 kali loncatan. Loncatan yang pertama 
sampai kelima hanya memakan waktu sekitar 100-200 mili detik adalah loncatan dari 
komputer penulis ke jaringan milik Telkomnet di Indonesia. Pada loncatan ke enam, 
waktu yang diperlukan meningkat banyak sekali menjadi sekitar 650 mili detik, 
ini dikarenakan loncatan tersebut memang jauh, yaitu dari stasiun bumi Telkomnet 
yang ada di Cibinong ke gateway milik Telkomnet yang ada di Hongkong.

Kadang waktu yang diperlukan meningkat banyak sekali karena jarak yang jauh atau 
jaringan yang dilewati memang sedang padat. Anda harus mencurigai titik-titik dimana 
waktu yang diperlukan menjadi besar sekali. Jika hal ini terjadi, anda dapat 
mengeceknya dengan melakukan ping ke router tersebut beberapa kali untuk melihat 
apakah paket yang kita kirimkan di drop, atau apakah ada variasi waktu yang besar.

Kemudian pada loncatan ke 16 sampai 18 anda melihat (ttl=246!) di sebelah kolom waktu.
Ini adalah indikasi dari trceroute bahwa TTL yang kembali tidak sesuai dengan sewaktu 
dikirimkan ini menunjukkan adanya asymmetric path, yaitu router yang dilewati paket 
sewaktu berangkat tidak sesuai dengan router yang dilewati sewaktu paket tersebut 
kembali. Tetapi hal itu adalah normal.

Tanda asterik pada loncatan ke 25 dan 26 menandakan bahwa traceroute tidak menerima 
respon dari komputer tersebut, pada loncatan ke 26 kemungkinan dikarenakan router 
tersebut tidak mengirimkan paket ICMP, sedangkan pada loncatan ke 25 kemungkinan 
adalah hasil dari paket ICMP yang dikirimkan oleh router tersebut hilang di perjalanan 
karena suatu sebab.
Dikombinasikan dengan ping, traceroute menjadi alat analisa jaringan yang baik dengan 
melihat loncatan mana yang memakan waktu yang besar atau paket yang di drop, kita dapat 
menentukan dimana titik kritisnya. Kemudian dengan melakukan ping pada titik tersebut 
dan satu titik sebelumnya, kita dapat menemukan masalah yang ada dalam jaringan.

Sumber: http://ezine.echo.or.id/ezine3/ez-r03-samuel-analisa_jaringan_dengan_ping&&traceroute.txt

Monday, September 26, 2011

Install Active Directory / Domain Controller di Windows Server 2008


  1. Start > Run
    Start > Run
  2. Ketikkan dcpromo > OK
    dcpromo
  3. Jika tampil layar seperti di bawah, klik Continue saja
    Continue
  4. Tunggu hingga proses berikut selesai
    checking
    checking
  5. Pada jendela Installation Wizard, klik Next>
    installation wizard
  6. Pada Operating System Compatibility, silahkan baca dahulu informasi di sana, lalu klik Next>
    Operating System Compatibility
  7. Buat domain baru, pilih Create a new domain in a new forest > Next>
    Deployment Configuration
  8. Ketikkan nama forest root domain, misalnya wowtest.com
    forest root domain
  9. Tunggu hingga proses pengecekan selesai.
    checking
    checking
  10. Pada Forest Functional Level, di sini saya pilih Windows 2000. Perhatikan setiap informasi dari masing-masing pilihan di sana. Pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan anda. Jika sudah klik Next>
    forest functional level
  11. Setelah itu kita akan memilih Domain Functional Level, di sini saya memilih Windows Server 2003. Sekali lagi, perhatikan setiap informasi dari masing-masing pilihan dan pilih sesuai kebutuhan anda. Lalu klik Next>
    domain functional level
  12. Pada Additional Domain Controller Options, centang pada DNS server. Lalu klik Next>
    Additional Domain Controller Option
  13. Jika anda menemui jendela berikut ini, pilih “Yes,…..”
    dynamically assigned IP addess
  14. Continue, klik Yes
    continue
  15. Pilih lokasi penyimpanan Database, Log Files, dan SYSVOL. Default penyimpanan seperti pada gambar. Klik Next>
    Lokasi Database, Log Files, dan SYSVOL
  16. Masukkan password untuk Administrator dua kali (harus sama), baca keterangan di sana. Jika sudah klik Next>
    administrator password
  17. Berikut hasil dari semua setting atau option-option yang telah anda pilih sebelumnya. Pastikan semua option benar dan sesuai dengan yang anda maksud. Jika sudah yakin, klik Next> untuk memulai proses installasi
    summary
  18. Tunggu hingga proses installasi selesai.
    DNS installation
    Installing Group Policy Management Console
    creating directory partition
  19. Proses installasi selesai. Klik Finish untuk menutup wizard.
    finish
  20. Restart komputer anda, klik Restart Now
    restart
  21. Setelah komputer restart, buka Start > Administratif Tools
    Di sana anda akan menemukan fitur-fitur berikut dari proses installasi di atas :
    - Active Directory Domains and Trusts
    - Active Directory Sites and Services
    - Active Directory Users and Computers
    - ADSI Edit
    - DNS
    - Group Policy Management
    installed
Sekarang Active Directory / Domain Controller + DNS server telah berhasil terinstall di Windows Server 2008.

Friday, September 23, 2011

How To Install DD-WRT on Linksys E1000

1. Read the Peacock Announcement. 
2. Download dd-wrt.v24-15279_NEWD-2_K2.6_mini_e1000.bin. If you wish to experiment with a newer build, you should read the "build thread" for any build you are considering putting on your router, before flashing a newer build, (as discussed in the peacock announcement).
3. Set a static IP on your computer to 192.168.1.7. Subnet mask should be 255.255.255.0
4. Connect the lan cable from your computer to a LAN port of your router. Make sure your router is plugged in. Nothing should be connected to your computer or the router except the lan cable between them.
5. Ensure you have a physical ethernet connection to your router, and disable your wireless adapter, antivirus/firewall protection, and any software that makes strong use of your network (BitTorrent, Streaming Audio/Video, etc).
6. Perform a hard 30/30/30 reset. 
7. Navigate to http://192.168.1.1/ in your web browser of choice. 
8. At the Linksys Management Mode screen, do not give the reboot command. You will use this page to upgrade your firmware.
9. Browse to the firmware you downloaded and click Upload. 
10. Do not touch anything. The page will tell you that the upgrade was successful and the router is now rebooting. Your router may take upwards of a couple minutes to reboot. Watch the lights... once the wireless and power indicators are on steadily for several seconds, your router is fully rebooted and you can click "Continue" in your browser window.
11. If the DD-WRT password change page displays, your upgrade has been successful, and you must now perform another hard 30/30/30. This time, when you navigate to http://192.168.1.1/, click "Reboot" and wait for the router to come online again so you can configure it.If the DD-WRT password change page does not display, your page request times out, or you can't ping 192.168.1.1, make sure both wireless and power lights are on steadily first, then do a hard power cycle (unplug the power from the router--do not do a 30/30/30 reset). Wait a few seconds and plug the power back into the router. Wait until both wireless and power lights are on steadily, then navigate to http://192.168.1.1/ in your browser of choice again. If the DD-WRT password change page displays, your upgrade has been successful, and you must now perform another hard 30/30/30. This time, when you navigate to 192.168.1.1, click "Reboot" and wait for the router to come 
online again so you can configure it.


sumber: http://gdgt.com/question/how-to-install-dd-wrt-on-linksys-e1000-dy9/

Monday, September 19, 2011

RAID Harddisk


RAID, singkatan dari Redundant Array of Independent Disks merujuk kepada sebuah teknologi di dalam penyimpanan data komputer yang digunakan untuk mengimplementasikan fiturtoleransi kesalahan pada media penyimpanan komputer (utamanya adalah hard disk) dengan menggunakan cara redundansi (penumpukan) data, baik itu dengan menggunakanperangkat lunak, maupun unit perangkat keras RAID terpisah. Kata "RAID" juga memiliki beberapa singkatan Redundant Array of Inexpensive DisksRedundant Array of IndependentDrives, dan juga Redundant Array of Inexpensive Drives. Teknologi ini membagi atau mereplikasi data ke dalam beberapa hard disk terpisah. RAID didesain untuk meningkatkan keandalan data dan/atau meningkatkan kinerja I/O dari hard disk.
Sejak pertama kali diperkenalkan, RAID dibagi ke dalam beberapa skema, yang disebut dengan "RAID Level". Pada awalnya, ada lima buah RAID level yang pertama kali dikonsepkan, tetapi seiring dengan waktu, level-level tersebut berevolusi, yakni dengan menggabungkan beberapa level yang berbeda dan juga mengimplementasikan beberapa level proprietary yang tidak menjadi standar RAID.
RAID menggabungkan beberapa hard disk fisik ke dalam sebuah unit logis penyimpanan, dengan menggunakan perangkat lunak atau perangkat keras khusus. Solusi perangkat keras umumnya didesain untuk mendukung penggunaan beberapa hard disk secara sekaligus, dan sistem operasi tidak perlu mengetahui bagaimana cara kerja skema RAID tersebut. Sementara itu, solusi perangkat lunak umumnya diimplementasikan di dalam level sistem operasi, dan tentu saja menjadikan beberapa hard disk menjadi sebuah kesatuan logis yang digunakan untuk melakukan penyimpanan.


Konsep

Ada beberapa konsep kunci di dalam RAID: mirroring (penyalinan data ke lebih dari satu buah hard disk), striping (pemecahan data ke beberapa hard disk) dan juga koreksi kesalahan, di mana redundansi data disimpan untuk mengizinkan kesalahan dan masalah untuk dapat dideteksi dan mungkin dikoreksi (lebih umum disebut sebagai teknik fault tolerance/toleransi kesalahan).
Level-level RAID yang berbeda tersebut menggunakan salah satu atau beberapa teknik yang disebutkan di atas, tergantung dari kebutuhan sistem. Tujuan utama penggunaan RAID adalah untuk meningkatkan keandalan/reliabilitas yang sangat penting untuk melindungi informasi yang sangat kritis untuk beberapa lahan bisnis, seperti halnya basis data, atau bahkan meningkatkan kinerja, yang sangat penting untuk beberapa pekerjaan, seperti halnya untuk menyajikan video on demand ke banyak penonton secara sekaligus.
Konfigurasi RAID yang berbeda-beda akan memiliki pengaruh yang berbeda pula pada keandalan dan juga kinerja. Masalah yang mungkin terjadi saat menggunakan banyak disk adalah salah satunya akan mengalami kesalahan, tapi dengan menggunakan teknik pengecekan kesalahan, sistem komputer secara keseluruhan dibuat lebih andal dengan melakukan reparasi terhadap kesalahan tersebut dan akhirnya "selamat" dari kerusakan yang fatal.
Teknik mirroring dapat meningkatkan proses pembacaan data mengingat sebuah sistem yang menggunakannya mampu membaca data dari dua disk atau lebih, tapi saat untuk menulis kinerjanya akan lebih buruk, karena memang data yang sama akan dituliskan pada beberapa hard disk yang tergabung ke dalam larik tersebut. Teknik striping, bisa meningkatkan performa, yang mengizinkan sekumpulan data dibaca dari beberapa hard disk secara sekaligus pada satu waktu, akan tetapi bila satu hard disk mengalami kegagalan, maka keseluruhan hard disk akan mengalami inkonsistensi. Teknik pengecekan kesalahan juga pada umumnya akan menurunkan kinerja sistem, karena data harus dibaca dari beberapa tempat dan juga harus dibandingkan dengan checksum yang ada. Maka, desain sistem RAID harus mempertimbangkan kebutuhan sistem secara keseluruhan, sehingga perencanaan dan pengetahuan yang baik dari seorang administrator jaringan sangatlah dibutuhkan. Larik-larik RAID modern umumnya menyediakan fasilitas bagi para penggunanya untuk memilih konfigurasi yang diinginkan dan tentunya sesuai dengan kebutuhan.
Beberapa sistem RAID dapat didesain untuk terus berjalan, meskipun terjadi kegagalan. Beberapa hard disk yang mengalami kegagalan tersebut dapat diganti saat sistem menyala (hot-swap) dan data dapat diperbaiki secara otomatis. Sistem lainnya mungkin mengharuskan shutdown ketika data sedang diperbaiki. Karenanya, RAID sering digunakan dalam sistem-sistem yang harus selalu on-line, yang selalu tersedia (highly available), dengan waktu down-time yang, sebisa mungkin, hanya beberapa saat saja.
Pada umumnya, RAID diimplementasikan di dalam komputer server, tapi bisa juga digunakan di dalam workstation. Penggunaan di dalam workstation umumnya digunakan dalamkomputer yang digunakan untuk melakukan beberapa pekerjaan seperti melakukan penyuntingan video/audio.


Sejarah
Pada tahun 1978Norman Ken Ouchi dari International Business Machines (IBM) dianugerahi paten Amerika Serikat, dengan nomor 4092732 dengan judul "System for recovering data stored in failed memory unit." Klaim untuk paten ini menjelaskan mengenai apa yang kemudian dikenal sebagai RAID 5 dengan penulisan stripe secara penuh. Patennya pada tahun 1978 tersebut juga menyebutkan bahwa disk mirroring atau duplexing (yang kini dikenal sebagai RAID 1) dan juga perlindungan dengan paritas khusus yang didedikasikan (yang kini dikenal dengan RAID 4) bisa digunakan, meskipun saat itu belum ada implementasinya.
Istilah "RAID" pertama kali didefinisikan oleh David A. PattersonGarth A. Gibson dan Randy Katz dari University of CaliforniaBerkeleyAmerika Serikat pada tahun 1987, 9 tahun berselang setelah paten yang dimiliki oleh Norman Ken Ouchi. Mereka bertiga mempelajari tentang kemungkinan penggunaan dua hard disk atau lebih agar terlihat sebagai sebuah perangat tunggal oleh sistem yang menggunakannya, dan kemudian mereka mempublikasikannya ke dalam bentuk sebuah paper berjudul "A Case for Redundant Arrays of Inexpensive Disks (RAID)" pada bulan Juni 1988 pada saat konferensi SIGMOD. Spesifikasi tersebut menyodorkan beberapa purwarupa RAID level, atau kombinasi dari drive-drive tersebut. Setiap RAID level tersebut secara teoritis memiliki kelebihan dan juga kekurangannya masing-masing. Satu tahun berselang, implementasi RAID pun mulai banyak muncul ke permukaan. Sebagian besar implementasi tersebut memang secara substansial berbeda dengan RAID level yang asli yang dibuat oleh Patterson dan kawan-kawan, tapi implementasi tersebut menggunakan nomor yang sama dengan apa yang ditulis oleh Patterson. Hal ini bisa jadi membingungkan, sebagai contoh salah satu implementasi RAID 5 dapat berbeda dari implementasi RAID 5 yang lainnya. RAID 3 dan RAID 4 juga bisa membingungkan dan sering dipertukarkan, meski pada dasarnya kedua jenis RAID tersebut berbeda.
Patterson menulis lima buah RAID level di dalam papernya, pada bagian 7 hingga 11, dengan membagi ke dalam beberapa level, sebagai berikut:
  • RAID level pertama: mirroring
  • RAID level kedua : Koreksi kesalahan dengan menggunakan kode Humming
  • RAID level ketiga : Pengecekan terhadap disk tunggal di dalam sebuah kelompok disk.
  • RAID level keempat: Pembacaan dan penulisan secara independen
  • RAID level kelima : Menyebarkan data dan paritas ke semua drive (tidak ada pengecekan terhadap disk tunggal)